03 Maret 1990
Dengan percaya akan kemampuan diri, keterampilan dan keahlian yang dimiliki serta pengalaman selama 78 tahun, AJB Bumiputera 1912 siap untuk terus berlaga di sirkuit bisnis nasional. Seperti tekad yang sudah dipancangkan, perusahaan ini ingin senantiasa berkibar sepanjang masa. MATEMATIS usia seseorang di Indonesia berkisar 60-an tahun. Tak banyak orang yang mampu hidup lebih dari tiga perempat abad. Kalaupun ada, itu pasti mengundang decak kagum tersendiri, terlebih bila seseorang itu masih mempunyai fisik yang baik. Tapi, itu tidak akan terjadi pada setiap manusia di dunia ini. Karena faktor alamiah, orang pasti meninggal pada saatnya kelak, atau kondisi yang kian melemah pada usia yang semakin renta. Usia yang panjang, bagi organisasi, perusahaan atau negara, sungguh suatu gambaran tentang daya tahan dan daya juang yang tinggi, karena bertahan dan berkembang sampai umur yang begitu lama, bukanlah perjuangan ringan. Banyak contoh mengenai organisasi, perusahaan dan negara yang pecah di dunia ini, namun tidak sedikit pula yang mampu terus berjalan sampai dengan tempo yang relatif panjang. Ada negara berusia dua ratus tahun seperti Amerika Serikat dan ada pula negara yang berusia tak lebih dari setengah abad seperti republik kita ini. Di Jepang, Eropa Barat dan benua-benua lain, ada perusahaan yang sampai mencapai ratusan tahun tuanya. Di Indonesia, ada pula perusahaan yang hidup lebih dari tiga perempat abad. Satu di antaranya, dan yang telah sanggup menampilkan sosoknya sebagai sebuah badan usaha yang mantap dan terpandang, ialah Asuransi Jiwa Bersama (AJB) Bumiputera 1912, yang di bulan ini, atau tepatnya 12 Februari 1990, genap 78 tahun. Apa pun tolok ukurnya, bertahan dan berkembang di tengah gelombang perekonomian kita yang fluktuatif, lebih-lebih bidang bisnis asuransi jiwa sampai saat ini kurang mendapat trustworthy dari masyarakat, maka berdiri dan berkibar sepanjang 78 tahun sungguh reputasi yang sulit ditandingi. Seorang yang paling pelit dalam memuji pun barangkali tak akan sayang mengangkat satu jempolnya untuk perusahaan asuransi jiwa swasta tertua di Indonesia ini. Usia renta, tidak membuat perusahaan yang berbadan usaha mutual ini terseok-seok seperti layaknya orang yang sudah tua. Tapi sebaliknya, AJB Bumiputera 1912 justru semakin kukuh. Akhir 1989 kemarin, aset perusahaan, pemasukan premi, jumlah pemegang polis dan beberapa data penting lainnya mengalami kenaikan dibanding tahun sebelumnya (lihat tabel). ----------------------------------------------- Keterangan 1989 1988 ----------------------------------------------- Uang pertanggungan Rp 2.740.759 Rp 2.250.013 Penerimaan premi Rp 161.630 Rp 133.404 Investasi Rp 242.180 Rp 220.913 Pembayaran klaim Rp 67.986 Rp 65.903 Aset Rp 338.017 Rp 287.609 Pemegang polis 1.175.741 1.013.380 Kantor cabang 347 329 ------------------------------------------------ (dalam jutaan rupiah) Dari Modal Tiga Orang Guru Sampai Konglomerasi Perusahaan ini, berdiri atas ~dasar keprihatinan akan nasib bangsa di bawah tekanan pen~jajah dan motivasi luhur guna meningkatkan martabat bangsa. R. Dwidjosewojo, seorang guru yang juga menjabat sekretaris pengurus besar Boedi Oetomo, merupakan pemrakarsa berdirinya perusahaan ini bersama rekan-rekan seperjuangannya, MKH. Soebroto dan M. Adimidjojo yarig tergabung dalam PGHB (Perserikatan Guru Hindia Belanda) di Magelang. Dengan nama Onderlinge Levensverzekering Mij. PCHB, usaha ini semula dimaksudkan hanya untuk kaum guru Hindia Belanda. Tapi, kemudian berkembang sifatnya menjadi umum, sehingga berganti nama menjadi O.L. Mij. Boemi Poetra, dan akhirnya sekarang bernama Asuransi Jiwa Bersama Bumiputera 1912. Kisah berdirinya mempunyai kaitan erat dengan sejarah pergerakan nasional. Dan, memang usaha asuransi jiwa itu tak lain dari kesinambungan pergerakan Boedi Oetomo. Awalnya, pangkal keuangan AJB Bumiputera 1912 tidak dapat dianggap sebagai modal kerja yang layak. Sumbernya hanya berasal dari pembayaran premi lima orang anggota pertama, yaitu ketiga para pendiri, ditambah dua orang lain. Lebih dari itu, para pengurus tidak digaji, dengan kata lain, bekerja sukarela. Modal utama para pendiri AJB Bumiputera 1912 pada waktu itu adalah: idealisme yang berlandaskan semangat patriotisme. Dari sebuah organisasi bisnis yang diprakarsai dan diwujudkan oleh sekelompok guru yang pada tahap awal pendiriannya dililit oleh kesulitan-kesulitan, terlebih karena berdiri pada iklim penjajahan Belanda di Indonesia -- Bumiputera 1912 mengalami banyak cobaan dari masa ke masa. Zaman perang dunia kedua, zaman pendudukan Jepang dan revolusi kemerdekaan, ditambah lagi dengan hebatnya inflasi selama tahun 1950- 1966 yang merupakan periode penuh tantangan bagi AJB ini. Hingga sekarang, saat tegaknya orde baru, Bumiputera 1912 telah mampu membentangkan sayapnya dengan memiliki 347 kantor cabang, berarmada 2477 karyawan, bermarkas di Wisma Bumiputera gedung milik sendiri berlantai 21, sebagai kantor pusat di kawasan elite jalan Sudirman, Jakarta. AJB yang duduk dijajaran atas ranking perasuransian jiwa di Indonesia ini, juga mempunyai peran serta dalam pemilikan saham di berbagai perusahaan besar Indonesia. Lebih dari itu, kejeliannya dalam membidik peluang, telah membuat perusahaan ini berkembang dengan sembilan anak perusahaan. Dua yang terakhir adalah PT. Bumiputera Dharma Aktuaria (konsultan manajemen dana pensiun & asuransi jiwa), serta yang tengah berkumandang gaungnya belakangan ini, adalah Bank Bumiputera. Salah satu media terbitan ibukota bahkan mengklasifikasikan Bumiputera sebagai konglomerat di urutan tiga puluhan. Benarkah? "Wah, kami sendiri tidak menamakan diri kami seperti itu," kilah Suratno Hadisuwito (tambahan nama belakang Hadisuwito baru dipakainya pada tahun 1990 ini. ~Untuk menghindari nama depannya yang jumlahnya kodian, kelakarnya). "Tapi, sepanjang istilah konglomerat itu sendiri tidak jelek, seperti ungkapan Kwiek Kian Gie. ya boleh-boleh sajalah orang mengatakan seperti itu," lanjut direktur investasi ~ keuangan ini. Hadir di tengah kehidupan masyarakat yang penuh sinisme dan dunia bisnis yang sarat dengan beragam intrik, merupakan faktor eksternal yang menguji ketahanan AJB Bumiputera 1912. Iklim sosial yang demikian itu, tak mungkin dihindari, dan barangkali keadaan itulah yang menjadi tantangan AJB Bumiputera 1912. Apakah ia bakal hancur ditelan keadaan, seperti kata orang, "revolusi pun memakan anaknya sendiri", ataukah Bumiputera makin tegar berpijak sebagai pilar yang kukuh dalam struktur bisnis Indonesia, hanya zamanlah yang akan menjadi saksinya. Bagi Bumiputera yang telah meniti jalan selama 78 tahun dengan kekuatan dan kelemahan di tengah peluang dan ancaman, tak ada ucapan lain yang menjadi tekad selain keinginan untuk tetap survive sepanjang masa. Segala kendala perekonomian perlu dihadapi dengan penuh perhitungan dan inovasi usaha yang cemerlang. Pemantapan diri ke dalam dan pelestarian nilai-nilai yang menjadi pendorong keberhasilan usaha selama ini ingin diteruskan sebagai ikatan bersama kepada seluruh karyawan. Satu kesadaran penting lainnya, yang tampaknya menjadi fenomena perusahaan-perusahaan besar di dunia pada dewasa ini, adalah munculnya konsepsi filosofi perusahaan atau kultur perusahaan (corporate culutre) sebagai pendorong majunya bisnis. Hal ini pun menjadi perhatian AJB Bumiputera 1912. Interaksi antar manusia yang berlainan kultur, sifat. pembawaan, cara berpikir dan bertindak selama 78 tahun, barangkali telah melahirkan kultur perusahaan yang menjadi pedoman dan pegangan dalam kehidupan menjalankan bisnis. Kultur atau budaya usaha ini barangkali tanpa sengaja telah menjadi citra AJB Bumip~tera 1912 yang membedakan dirinya dengan perusahaan-perusahaan lain. Tahun Pelayanan Menginjak usia 78 tahun ini~, Bumiputera beserta seluruh armadanya telah siap de~~ngan komitmen peningkatan pelayanan. Begitu serunya gema tentang pelayanan ini disuarakan, sampai-sampai pada setiap kelompok karyawan di masing-masing ruangan kerja selalu terdengar diskusi mengenai pelayanan. "Sejak dicetuskannya tahun ini sebagai tahun pelayanan di Bumiputera, hampir setiap jam ada seminar kecil yang membahas metode pelayanan di antara sesama rekan di kantor ini," ungkap Drs. Marsyaf Effendi kepala Humas, tanpa bisa menyembunyikan rasa bangganya, betapa unsur pelayanan telah menjadi perhatian serius para karyawan di Bumiputera. Bukan topik baru sebenarnya berbicara tentang pelayanan di AJB Bumiputera 1912, karena hal ini sudah menjadi prioritas sejak jauh waktu sebelumnya. Kali ini, kadar penghayatan, penerapan dan strateginya lebih kami sempurnakan," tutur Drs. Sugiarto, Direktur utama. "Perusahaan mengutamakan pelayanan kepada para peserta polis Bumiputera dan masyarakat sebagai komitmen utama terhadap publik. Penumbuhan kepuasan dan kepercayaan masyarakat akan terus meningkat, apabila perusahaan memberikan yang terbaik bagi mereka. Pelayanan prima kepada nasabah memang merupakan kunci keberhasilan banyak perusahaan cemerlang," lanjut Sugiarto bersungguh-sungguh. Dalam mengelola usaha, AJB Bumiputera 1912 selalu memperhitungkan faktor-faktor ekonomi. Artinya, dengan mencari laba, perusahaan akan mampu mengembangkan usahanya, di samping memberikan kesejahteraan yang cukup layak kepada para karyawan, memenuhi harapan para pendiri pada khususnya dan masyarakat pada umumnya. "Mencari keuntungan, dalam kegiatan bisnis adalah sesuatu yang lumrah, dan orientasi orang kepada materi itu perlu," ujar Sudibyo Sutowibowo, direktur pemasaran. "Pokok masalahnya adalah, bagaimana dan untuk keperluan apa materi itu digunakan perusahaan. Materi tidaklah dimaksudkan untuk dipupuk sebanyak-banyaknya di tengah sikap materialistis," ujar Sudibyo lagi. "Laba bukanlah tujuan, tapi sekadar alat bagi kelangsungan hidup dan perkembangan perusahaan." AJB Bumiputera 1912 selalu berusaha dan bekerja keras untuk menyajikan hasil karya atau paket produk yang berkualitas baik. Kualitas dan pemahaman selera inilah yang menjadi target dan tujuan usaha, karena mutu karya, akan menjadi ukuran keberhasilan. Maka, tengok saja produk-produk yang telah dihasilkan Bumiputera, semuanya menawarkan keuntungan bagi pesertanya dan berusaha edukatif dengan mengingatkan apa arti masa depan . Mutual dan BPA Barangkali cuma inilah satu-satunya perusahaan asuransi yang berbadan usaha "lain dari yang lain". Ia, berbadan usaha mutual. Unik memang, karena umumnya semua perusahaan asuransi di Indonesia berbentuk PT. Mutual, adalah usaha bersama yang hanya dimiliki Bumiputera 1912 di Republik ini lewat pengesahan pemerintah: SK Menkeu 1250/ KMK 013/1988. Di dalam mutual, pemilik perusahaan adalah para pemegang polis. Ini berarti, tulis majalah MATRA baru-baru ini, AJB Bumiputera 1912 sudah go-public sejak tujuh puluh delapan tahun yang lalu. Maka, di dalam bentuk usaha yang mutual itu, adalah B.P.A. (Badan Perwakilan Anggota). Ia merupakan lembaga tertinggi di AJB Bumiputera 1912 yang punya tugas antara lain memilih dewan direksi perusahaan. Ini semacam MPR-nya Bumiputera. BPA ini, terdiri dari unsur-unsur karyawan (diwakili 2 orang), pemegang polis (10 orang) dan pengurus/direksi (7 orang). Selain itu, tugas BPA yang lain, adalah memantau dan menampung keluhan atau aspirasi dari masyarakat peserta, untuk kemudian disampaikan kepada dewan pengurus. BPA yang minimal satu kali bersidang setiap tahunnya ini, juga turut menentukan anggaran perusahaan. Lebih dari itu, dalam BPA yang melibatkan unsur karyawan ini, masing-masing pihak diberi tanggung jawab untuk menentukan GBHP (Garis Besar Haluan Perusahaan). Barangkali hal semacam ini yang jarang ditemui di perusahaan lain, karena, di rapat pemegang saham misalnya, yang turut di dalamnya bukan hanya para komisaris dan direksi saja, tapi melibatkan juga para karyawan dan pemegang polis. Pola kebersamaan yang menempatkan unsur demokrasi dalam bentuk mutual ini, tampaknya memang semacam ciri khas dari sistem manajemen yang dianut AJB Bumiputera 1912. Kalau dikaitkan dengan isi pasal 33 UUD 45 sebagai identitas yang dimiliki bangsa Indonesia, maka praktek kerja yang sudah dijalankan Bumiputera selama 78 tahun lewat bentuk mutualnya ini, ternyata memang selaras. Di pihak lain, dalam bentuk mutual ini, AJB Bumiputera 1912 juga memberikan peluang yang seluas-luasnya bagi pengembangan karir karyawan. Penekanan yang dalam terhadap human resources developm~ent ini, sejak lama sudah menjadi perhatian Bumiputera sesuai dengan idealisme pendirinya yang guru itu. Perusahaan ini menerapkan sistem promotion from within, yang antara lain terlihat dari rata-rata anggota direksinya adalah orang yang memulai karirnya di Bumiputera dari bawah. bahkan ada yang mengawalinya dari agen. Maka demikianlah. Dinamika manajemen AJB Bumiputera 1912 adalah inovasi yang menjadi sumber ide pengembangan usaha. Pandangan ke depan untuk mengantisipasi bisnis masa depan (seperti tercermin lewat arah investasi yang tepat dilakukan Bumiputera saat ini) serta belajar dari pengalaman masa silam merupakan kata kunci agar mampu melanjutkan peranannya semakin berarti lagi. Dengan percaya akan kemampuan diri, keterampilan dan keahlian yang dimiliki serta pengalaman selama 78 tahun. AJB Bumiputera 1912 memang tidak pesimis untuk terus berlaga di sirkuit bisnis nasional. Tonggak usaha yang telah ditancapkan selama 78 tahun sudah menjadi riwayat nasional. Dan, perjalanan AJB Bumiputera 1912 memang masih panjang. Seperti tekad yang sudah dipancangkan, perusahaan ini ingin terus berkibar sepanjanq masa. Imansyah Hadad.






